Kamis, 29 Juni 2017
Gadis Ini Mendapat Telefon dari Anak Kecil yang "Mencari Mamanya", Awalnya Dia Kira Telefon Ini Telefon Iseng, Tapi Ternyata....

Gadis Ini Mendapat Telefon dari Anak Kecil yang "Mencari Mamanya", Awalnya Dia Kira Telefon Ini Telefon Iseng, Tapi Ternyata....


Penipuan via telefon itu sedang marak beberapa tahun terakhir ini. Kadang mendapat telefon dari nomor yang tidak dikenal menjadi hal yang cukup menyebalkan dan menyeramkan. Tapi gimana kalau orang yang berada di seberang telefon itu adalah orang yang sedang membutuhkan pertolongan? Apa yang akan kita lakukan? Percaya tidak percaya, nyata atau tidak, kisah ini terjadi...

Aku adalah seorang karyawan biasa di sebuah perusahaan yang cukup besar. Suatu hari, aku ditugaskan untuk melakukan sebuah tugas yang mengharuskanku untuk tidak mematikan handphoneku. Tiba-tiba ada sebuah nomor yang tak dikenal menghubungiku. Tanpa ragu, aku langsung mematikannya. Sekarang ini di saat penipuan sedang marak, mengangkat telefon dari nomor yang tidak dikenal cukup berbahaya. Apalagi kalau nomor itu berasal dari orang yang tidak jelas. Tidak lama kemudian, telefonku bergetar lagi, berasal dari nomor yang sama. Akhirnya aku mencoba untuk mengangkat telefon itu dan mendengar suara seorang anak kecil, "Mama, lain kali aku nggak akan nakal lagi, nggak akan bikin mama marah lagi... Mama pulang ya..."

Tentu saja aku merasa sangat aneh dan merasa ditipu. Aku belum menikah, tidak mungkin aku punya anak. Dengan nada agak marah aku menjawabnya, "Maaf, salah sambung!" dan langsung menutup telefon itu.

Beberapa hari berikutnya, nomor ini terus menelefonku tanpa henti. Nomor ini terus menghantuiku pagi siang malam tanpa henti. Apalagi saat di tengah malam. Telefonnya semakin menjadi-jadi. Pekerjaanku mengharuskanku untuk terus menyalakan handphone sehingga aku tidak bisa lari dari telefon yang menerorku selama 24 jam ini. Beberapa hari berikutnya perasaanku berantakan. Kesal, bingung, semuanya bercapur jadi 1. Terkadang aku langsung mematikan telefon itu, terkadang aku cuma membiarkannya...

1 minggu kemudian di suatu pagi, aku sedang bersih-bersih kantor dan tiba-tiba ada telefon yang masuk ke handphoneku. Nomor yang berbeda. Kalau aku tidak mengangkat telefon itu, nomor itu akan terus berdering. Akhirnya karena kesal, aku mengangkat telefon itu dan mendengar suara seorang anak kecil yang lemah, "Ma, mama kapan pulang dinas? Aku, badanku sakit semua. Om bilang mama masih lama baru bisa pulang... Aku nggak bisa tunggu mama selama itu... Kalau mama nggak bisa pulang, boleh nggak mama cium aku di telefon? Sekali aja..." Mendengar suara yang lemah dan hampir menangis itu, aku tidak bisa menolak. Anak itu kemudian menjawab, "Mama, terima kasih ya... Aku, sudah bahagia..."

Suara itu kemudian hilang dan semuanya menjadi tenang. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Tidak lama kemudian ada seorang pria yang mengangkat telefon itu dan berkata dengan nada sedih, "Maafkan saya. Beberapa hari ini kami sudah mengganggu anda. Saya tidak tahu harus bagaimana lagi, anak ini, dia kehilangan papa dan mamanya sejak kecil. Papanya selingkuh dan mamanya meninggal karena kecelakaan. Anak ini sejak kecil udah menderita kanker ganas. Aku nggak tega memberitahu dia mamanya sudah meninggal. Dia nggak punya siapa-siapa lagi, karena itu aku sembarang mencari nomor telefon, dan mencoba menelefonnya, kebetulan nomor itu nomor anda. Maafkan saya..."

"Nggak Pak. Saya yang bersalah karena tidak bertanya dengan jelas. Maaf, kalau boleh tahu, bagaimana keadaan anak itu sekarang?" Tanyaku sambil mencoba menghibur.

"Anak itu sudah pergi. Wajahnya penuh senyum. Cuma karena anda mau menciumnya di telefon. Saya yakin dia sudah bahagia sekarang..."

Mendengar itu, aku tidak bisa menahan air mataku. Andai, aku mencoba untuk mencari tahu, andai, dan andai...


sumber : cerpen.co.id

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :